fbpx

SUASANA LEBARAN IDUL FITRI 1440 H

Makana lebaran

Setelah berpuasa Ramadhan selama satu bulan, kita akhirnya menemui Lebaran pada 1 Syawal. Inilah titik bagi setiap dari kita naik kelas dari bawah ke atas, dari rendah ke tinggi, dan dari buruk ke baik. Syawal artinya meningkat alias naik kelas.1 Syawal juga disebut sebagai hari penanda kemenangan. Kemenangan atas pencapaian diri mengalahkan segala yang dilarang. Padahal, yang dilarang serbapenuh kenikmatan. Namun, kita berhasil melewatinya dengan penuh kesabaran dan kesadaran. Makan, minum, berbicara kotor, berbohong, menggunjing, pacaran, merokok, dan segala kenikmatan lainnya kita mampu kendalikan. Ruh inilah yang semestinya dibawa pada 11 bulan berikutnya. Agar manusia Ramadhan tidak lenyap begitu saja setelah euforia kemenangan dirayakan. Yang pantas menikmati kemenangan 1 Syawal adalah mereka yang ikut dalam "proses pertarungan". Bertarung melawan diri sendiri (jihadun nafs), inilah pertarungan terbesar. Bahkan, lebih besar dari Perang Badar pada zaman Rasulullah SAW. Seperti dikisahkan dalam hadis yang diriwayatkan al-Baihaqi dalam kitab az-Zuhd (384) dan al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad (6/171) yang berbunyi, "Kita kembali dari jihad yang kecil (Perang Badar) kepada jihad yang lebih besar (perang melawan hawa nafsu)." Jihad terbesar inilah yang semestinya kita siapkan pasca-Ramadhan. Jangan sampai euforia kemenangan yang setiap tahun kita rayakan tetap saja mengantarkan kita ke jalur yang sama, yaitu penuh dosa dan salah. Seperti laiknya arena pertarungan, yang tidak ikut "bertarung" berarti tidak pantas merayakan kemenangan. Banyak orang hebat gagal bertarung melawan dirinya. Hebat di mata orang belum tentu hebat bagi dirinya. Mampu menebar nasihat dan dakwah, tetapi gagal menasihati dan mendakwahi dirinya. Bahkan, keluarganya. Padahal, diri dan keluarga itulah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban. Seperti firman Allah, "Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka." (QS at-Tahrim [66]: 6). Saat ini, di tengah maraknya industri nasihat, banyak orang pandai menasihati, tetapi tak pandai menasihati diri sendiri. Lebih mudah menjadi pembicara hebat daripada menjadi pendengar hebat. Lebih mudah berbicara daripada diam seribu bahasa. Terjadilah inflasi kata-kata. Karena, untuk menjadi pendengar hebat, butuh kesediaan dan kerelaan diri untuk menerima kebenaran dan kebaikan. Lalu, muncullah kesombongan. Arti sederhana dari sombong adalah menolak kebenaran. Mengabaikan nasihat kebaikan. Mari kita hindari dengan terus introspeksi agar tidak sampai lupa diri. Dengan datangnya Lebaran, kita move on-kan diri sepenuh hati menuju kemenangan. Saatnya kita setop segala bentuk dusta dan kesalahan. Inilah substansi kemenangan. Mari kita lebarkan diri membuka tali silaturahim pada Syawal ini. Membuka hati untuk saling memaafkan atas segala kesalahan. Kita sudahi hal-hal yang membuat kotor ruhani kita. Kita move on-kan "mind-body-soul" kita kepada kebenaran Allah. Bukan kebenaran manusia atau kebenaran penguasa. Karena, sering kali di tangan penguasa, kebenaran tergadaikan. Mari sambut kemenangan kita karena kita pantas merayakannya. n

Arti Lebaran

Arti Lebaran dan Makna Idul Fitri Yang Sesungguhnya | Umat Islam di seluruh dunia bolehlah berbahagia karena malam ini sudah sampai di hari lebaran setelah diuji selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, artinya sudah secara sah terlewati. Lelah payah yang dilakukan, insya allah diganti dengan kesucian dan ampunan. Setidaknya, begitulah janji Allah kepada manusia yang bertakwa.Jikalau kita ingat, pada saat menyambut momen lebaran itu, semuanya pasti sibuk. Mall mall penuh sesak oleh mereka yang berburu diskon. Pasar ramai dengan orang-orang yang mencari jajanan untuk keperluan di hari lebaran. Tidak terkecuali di jalanan, jalanan nampak berpacu dan bising dipenuhi oleh pemudik yang merindukan kampung halaman. Semuanya digerakkan oleh rasa yang sama, rasa bangga bahwa kita telah disucikan kembali oleh Allah melalui Ramadhan. Pada saat itu, yang membeli baju merasa bahwa di hari lebaran nanti, tubuh yang suci haruslah dibalut dengan pakaian yang indah. Yang membeli jajanan punya maksud sendiri, mereka tidak mau mengecewakan tamu yang biasa hadir ke rumah dengan tradisi ‘halal-bi-halal’. Yang mudik dan menyemuti jalanan pun punya alasan, mereka diberangkatkan oleh keinginan bertemu keluarga agar maaf-me-maafkan itu nyata dan tak sekedar kata-kata. Di sisi yang lain, ada yang mengklaim bahwa hal-hal di atas tersebut tak perlu dilakukan. Lebaran harus kembali pada nafas kesucian kita, yakni kesederhanaan. Yang lebih penting dari merayakan ialah merawat agar kebaikan, ketika dan pasca-Ramadhan, itu terus bersemai sepanjang hidup. Semua alasan di atas tadi adalah benar dan patut untuk diapresiasi. Sekarang kita beranjak ke pembahasan yang lain, yakni pembahasan mengenai apa arti dari lebaran itu sendiri.Arti Lebaran Seperti kita ketahui bahwa lebaran itu merupakan bahasa kita, Tak ada dalam negara manapun yang memakai istilah ini untuk memaknai hari raya Idul Fitri. Lebaran tidak memiliki arti kesucian ataupun pengembalian roh pada titik awal. Lebaran bukan kata ganti yang artinya sama dengan Idul Fitri (hari raya makan). Namun lebaran, karena sudah terlalu lama dan mengakar, lebih mudah diucapkan daripada menyebut Idul Fitri. Untuk itu, marilah kita mencari tahu darimana datangnya kata lebaran, sehingga hal itu menjadi relevan dengan budaya bangsa kita. Untuk membedah suatu kata, kita mengenal dua hal, etimologi dan terminologi. Sisi etimologi mengupas tentang asal-usul kata. Sedangkan terminologi membahas mengenai makna daripada kata tersebut. Untuk menjelaskan tentang kata lebaran, kita hanya butuh etimologi saja. Lebaran konon memiliki lima padanan kata yang berkaitan dengannya. Lima kata tersebut adalah lebar-an, luber-an, labur-an, lebur-an dan liburan. Mari kita bahas satu persatu. Pertama, lebaran konon berasal dari lebar yang dibubuhi imbunan -an. Lebar yang menjadi awalan dari lebaran bukanlah lebar dalam arti bangunan, lapangan atau pun halaman. Akan tetapi ‘lebar hati’ kita untuk memaafkan. Orang tua suka berkata “sing gede atine” manakala kita disakiti dan dari situlah lebar dimasukan sebagai awal mula kata ‘lebaran’. Kedua, lebaran dianggap juga sebagai kata yang bermula dari ungkapan luber. Luber dalam KBBI memiliki arti melimpah, meluap. Ringkasnya, melewati batas daripada batas yang ditentukan. Luber maafnya, luber rezekinya dan luber pula pahalanya sehabis Ramadhan. Untuk itu, maka luber-an bertransformasi menjadi lebaran. Ketiga, menurut Mustofa Bisri, lebaran diambil dari kata laburan (jawa;mengecat). Setiap kali menjelang datangnya Idul Fitri, semua kepala keluarga sibuk mengecat rumahnya agar tampak indah. Dari kebiasaan laburan menjelang Idul Fitri itulah, lebaran menjadi sebuah kata yang setara dengan makna Idul Fitri itu sendiri.

Keempat, dalam satu kesempatan, Almarhum KH Muhtar Babakan Ciwaringi pernah berujar bahwa lebaran itu berakar filosofis dari kata leburan (jawa:menyatukan). Dengan ujian dan cobaan, dengan kesabaran dan ketenangan, selepas Ramadhan itu diharapkan kita mampu meleburkan diri kita pada sifat-sifat Tuhan. Dalam bahasa Syeikh Siti Jenar “manunggaling kawula gusti”. Semangat perubahan itulah yang merubah leburan menjadi lebaran.Kelima, atau yang terakhir, lebaran dimaknai sebagai plesetan dari liburan. Dalam kalender Nasional, Hari Raya Idul Fitri adalah tanggal merah yang artinya libur. Menikmati hari libur berarti liburan. Oleh karena alasan itu, maka liburan yang diucapkan berulang-ulang, menjadi titik pangkal dari munculnya lebaran.Begitulah arti lebaran dalam bahasa kita Indonesia. Unik dan bermacam-macam. Jauh dari nalar namun dekat dengan perasaan.Lebih penting daripada arti-arti itu adalah esensi atau ruh yang seringkali dimiliki dalam setiap kali kita menyebut kata ‘lebaran’. Bagi kita, bangsa Indonesia, Idul Fitri itu lebaran. Dan lebaran itu memaafkan, lebaran itu kesucian, lebaran itu kebahagiaan, lebaran itu makan-makan, lebaran itu kerinduan, dan lebaran itu adalah lembaran baru untuk menuju optimisme esok yang lebih baik.

Makna Idul ftri

Hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa.

Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa.

Kata Id berdasar dari akar kata aada – yauudu yang artinya kembali sedangkan fitri bisa berarti buka puasa untuk makan dan bisa berarti suci. Adapun fitri yang berarti buka puasa berdasarkan akar kata ifthar (sighat mashdar dari aftharo – yufthiru) dan berdasar hadis Rasulullah SAW yang artinya :”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.” Dalam Riwayat lain: “Nabi Shallallahu alaihi wasallam Makan kurma dalam jumlah ganjil.” (HR Bukhari).

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Senandung Asma Alloh Menghiasi Malam Menghampiri Fajar ,Menyambut Hari kemenangan jabat tangan penuh kasih,erat tali silatu rohmi ,jiwa yang suci dari yang maha suci,tapi sering kali ternoda oleh dosa pada insan,Sucikan jiwa dengan saling memaafkan. minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin.

Apa bila idul fitri adalah sebuah lentera ,izin kan aku buka tabirnya dengan maaf  agar cahayanya menembus jiwa fitrah dari setiap kilaf dan salah.

Maaf kan Segala Salah Dan Dosaku

Copyright © 2019 Arahmedia.com. All Rights Reserved.

0 WooCommerce Floating Cart

No products in the cart.

X